five science's blog
sebuah coretan kecil anak-anak 2 IPA 5 SMA Negeri 1 Kota Cimahi
five scince
Minggu, 17 Oktober 2010
Babies
Film dokumenter ini merekam jejak 4 Bayi dari negara Namibia , Jepang , Mongolia dan Amerika. Dimulai dari mereka di perut sang bunda , hari kelahiran , sampai momen ketika mereka bisa berdiri.
Lucu dan menggemaskan , itu yang ditampilkan oleh film dokumenter berdurasi nyaris 1.5 jam ini. Tingkah laku yang polos dan apa adanya , situasi yang berbeda satu sama lainnya membuat kita - para penonton - tersenyum geli menyaksikan mereka.
And Soon The Darkness
Sinopsis:
Stephanie (Amber Heard) dan Ellie (Odette Yustman) hanya ingin berlibur di tempat yang sunyi. Sayangnya ini malah jadi awal dari malapetaka yang bakal mereka alami. Saat salah satu dari mereka tiba-tiba menghilang dan hanya meninggalkan bekas-bekas yang mencurigakan, hanya ada satu kesimpulan: ia telah diculik dan bisa jadi jiwanya tak akan tertolong lagi.
Stephanie (Amber Heard) dan Ellie (Odette Yustman) hanya ingin berlibur di tempat yang sunyi. Sayangnya ini malah jadi awal dari malapetaka yang bakal mereka alami. Saat salah satu dari mereka tiba-tiba menghilang dan hanya meninggalkan bekas-bekas yang mencurigakan, hanya ada satu kesimpulan: ia telah diculik dan bisa jadi jiwanya tak akan tertolong lagi.
Stephanie dan Ellie semula mengira kalau berlibur di sebuah tempat terpencil di Argentina bakal melepaskan mereka dari belenggu rutinitas sehari-hari. Awalnya liburan ini memang menyenangkan. Mereka berdua bisa bersenang-senang tanpa ada yang mengganggu. Masalah baru muncul ketika mereka berdua bertengkar dan Stephanie memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri untuk melepas kejengkelannya.
Saat Stephanie kembali, Ellie sudah tak ada lagi. Stephanie hanya menemukan bekas-bekas perlawanan dan segera saja ia menyimpulkan kalau Ellie telah diculik. Melaporkan kejadian ini pada polisi setempat ternyata bukanlah ide yang tepat karena para petugas hukum sendiri sudah kerepotan dengan kasus penculikan yang sering terjadi di area itu.
Tak punya solusi lain, Stephanie lantas berpaling pada Michael (Karl Urban), warga negara Amerika yang tinggal di hotel yang ia tempati. Semula Stephanie yakin bisa mempercayai Michael namun seiring waktu Stephanie mulai curiga kalau Michael tak benar-benar bermaksud membantu Stephanie menemukan Ellie.
| Genre | : | Thriller |
| Release Date | : | December 17, 2010 |
| Director | : | Marcos Efron |
| Script | : | Marcos Efron, Jennifer Derwingson |
| Producer | : | Chris Clar, Lizzie Friedman, Karen Lauder, Deborah Marcus |
| Distributor | : | Optimum Releasing |
The Tempest
Sinopsis:
Di zaman dulu, wanita tak memiliki hak yang sama dengan pria. Bila pria belajar ilmu sihir maka ia disebut bijaksana sementara bila seorang wanita belajar ilmu sihir maka ia disebut penyihir jahat dan harus diasingkan. Itulah yang dialami oleh Prospera (Helen Mirren). Karena iri, Antonio (Chris Cooper), saudara kandung Prospera, bersekongkol untuk menyingkirkan Prospera.
Tak ayal lagi, Prospera dan Miranda (Felicity Jones), putrinya yang masih kecil, harus dibuang jauh-jauh dari peradaban. Prospera dan Miranda hanya diberi sebuah kapal yang telah diisi dengan sebanyak mungkin keperluan mereka selama dalam perjalanan. Untungnya Prospera memiliki kekuatan gaib yang sangat membantu saat ia harus terombang-ambing di tengah lautan.
Tak berapa lama kemudian Prospera dan Miranda mendarat di sebuah pulau yang tak berpenghuni, setidaknya sampai Prospera dan Miranda datang. Tanpa sepengetahuan Prospera dan Miranda, ternyata mereka berdua bukanlah satu-satunya makhluk hidup di pulau itu. Di pulau yang sama diam seorang monster bernama Caliban (Djimon Hounsou). Kini dua makhluk berbeda ini harus saling belajar memahami kalau mereka berdua harus hidup berdampingan.
| Genre | : | Drama |
| Release Date | : | December 10, 2010 |
| Director | : | Julie Taymor, Russell Brand |
| Script | : | Julie Taymor |
| Producer | : | Julie Taymor, Robert Chartoff, Lynn Hendee, Jason K. Lau, Julia Taylor-Stanley |
| Distributor | : | Touchstone Pictures |
Life as We Know It
Sinopsis:
Dalam sekejap mata Holly Berenson (Katherine Heigl) dan Eric Messer (Josh Duhamel) harus menjadi ayah dan ibu dari Sophie (Juliet Schmidt) yang ditinggal mati orang tuanya. Bayangkan saja betapa paniknya mereka berdua karena pada dasarnya Holly dan Eric sama-sama tak sepaham. Kalaupun ada kesamaan di antara mereka, itu hanyalah rasa saling tidak suka di antara mereka.
Sejak kencan pertama pun Holly dan Eric sudah menyadari kalau mereka berdua tak akan bisa cocok. Masalahnya, sekarang mereka terpaksa harus menyisihkan ego mereka karena Sophie sudah tak punya siapa-siapa lagi. Merawat Sophie bukanlah sebuah keterpaksaan buat Holly dan Eric karena mereka berdua sama-sama menyayangi Sophie. Hanya saja Holly tak tahan dengan tingkah laku Eric dan begitu juga sebaliknya.
Masalah Holly dan Eric bukan hanya itu. Holly harus menjalankan bisnis kateringnya sementara Eric adalah seorang sutradara acara olahraga di sebuah stasiun televisi. Mereka punya jadwal sendiri-sendiri sementara mereka juga harus berbagi jadwal untuk merawat Sophie. Sanggupkah dua orang berbeda prinsip hidup ini tinggal di bawah satu atap demi bayi mungil yang sama-sama mereka cintai?
Review:
Satu lagi film komedi yang terjebak formula film komedi Hollywood. Tak ada yang benar-benar fresh dari LIFE AS WE KNOW IT ini. Akan lebih tepat kalau film ini disebut sebagai sebuah film recycle karena hampir semua adegan dalam film ini bisa kita dapatkan dari film-film komedi yang telah muncul lebih dulu. Kenapa? Tak ada yang tahu persis jawabnya.
Yang jelas, ada banyak 'kesalahan' dalam film ini. Yang pertama adalah logika. Coba saja bayangkan, mana mungkin ada orang yang 'mewariskan' tugas merawat anak mereka pada orang lain tanpa memberi tahu orang yang bersangkutan. Nyatanya logika itu sudah dilanggar pada saat naskah film ini ditulis dan sejak saat itu pula kisah yang ditawarkan dijamin tak akan bisa 'menyentuh' penonton.
Masalah berikutnya adalah tidak adanya kreativitas untuk membuat visualisasi dari naskah yang sudah salah tadi. Salah satu yang membuat penonton merasa 'wah' adalah saat mereka menyaksikan adegan yang tak pernah mereka dapatkan dari film-film sebelumnya. Kesan itu akan melekat kuat bahkan setelah film berakhir dan itulah yang membuat sebuah film jadi legendaris.
Yang parah lagi, Katherine Heigl tak bisa menghidupkan karakter Holly yang ia perankan. Kalau Anda perhatikan, akting Katherine dalam film ini tak beda dengan aktingnya dalam film KILLERS, padahal bisa saja ia memberikan sentuhan baru pada karakter Holly dan bukannya membuatnya jadi sama dengan karakter Jen Kornfeldt. Di saat yang sama, Josh Duhamel pun tak berbuat banyak untuk menghidupkan karakternya.
| Genre | : | Comedy |
| Release Date | : | October 8, 2010 |
| Director | : | Greg Berlanti |
| Script | : | Ian Deitchman, Kristin Rusk Robinson |
| Producer | : | Barry Josephson, Paul Brooks |
| Distributor | : | Warner Bros. |
| Duration | : | 115 minutes |
| Budget | : | US$38 million |
BOO
Sinopsis:
Ada yang bilang hantu tak pernah ada dan semua cerita tentang hantu adalah legenda belaka. Karena itu pula tak ada sedikit pun keraguan di benak empat orang yang bermaksud membuktikan legenda hantu yang ada di sebuah bekas rumah sakit yang tak lagi digunakan itu. Celakanya, sulit membedakan antara legenda dan kisah nyata dan pada saat ternyata legenda itu benar terbukti, semuanya sudah terlambat.
Emmett (Happy Mahaney), Freddy (Josh Holt), Marie (Nicole Rayburn), dan Kevin (Jilon Ghai) adalah keempat orang pemberani itu. Yang kurang beruntung adalah Jessie (Trish Coren), kekasih Kevin, yang sebenarnya enggan ikut dalam petualangan di malam Halloween ini.
Di saat yang sama, Allan (Michael Samluk) mendatangi Arlo Ray Baines (Dig Wayne), meminta bantuan untuk mencari Meg (Rachel Melvin), saudaranya, yang tak juga pulang. Tanpa disadari, mereka semua berada di rumah sakit yang sama dan terjebak di sana karena ada kekuatan yang tak menginginkan mereka keluar dengan selamat.
Review:
Dari judul yang dipilih saja sepertinya sudah bisa diperkirakan kalau film ini akan mengandalkan 'kejutan-kejutan' kecil sepanjang durasi film untuk membangun nuansa horor yang ditawarkan. Tak bisa disalahkan, sepanjang sejarah film horor, teknik yang sama memang selalu digunakan dan akhirnya malah tak efektif sama sekali. Padahal kalau mau, masih ada teknik lain yang lebih efektif tapi tentu saja untuk mewujudkannya diperlukan usaha keras.
Di saat film-film horor membanjiri pasar, kesamaan memang tak bisa dihindari. Kalau Anda perhatikan, hampir tak ada film horor yang benar-benar original, termasuk BOO! ini. Kisah yang ditawarkan cukup standar. Gedung tua berhantu, malam Halloween, remaja-remaja nekat, semuanya jadi unsur wajib film horor. Parahnya, bumbu-bumbu ini tak diolah dengan baik sehingga rasanya jadi malah hambar.
Alur cerita bisa diprediksi dengan mudah sementara tiap-tiap karakter yang ada dalam film ini pun terasa seperti karakter dua dimensi. Hasilnya, dialog terasa tidak alami yang malah membuat penonton merasa tak terlibat dengan para karakter ini. Sayang memang karena sebenarnya film ini masih punya peluang karena dari sisi visual film ini bisa dibilang cukup bagus untuk dana yang tak terlalu besar.
Genre : Horror
Release Date : July 13, 2006
Director : Anthony C. Ferrante
Script : Anthony C. Ferrante
Producer : David E. Allen,
Distributor : Ventura Distribution
Craziest Video - Ipa Lima - Wakawaka
Craziest Video - Ipa Lima - Jai Ho
Langganan:
Postingan (Atom)




